Jurusan Ukir dibuka di SMK N 2 Jepara

Sambutan Bupati Jepara H. Ahmad Marzuqi, SE dalam peringatan Hari Jadi Jepara ke-465
Sambutan Bupati Jepara H. Ahmad Marzuqi, SE dalam peringatan Hari Jadi Jepara ke-465

Kota Ukir demikian sebutan Kabupaten Jepara,kota yang terkenal dengan ukirannya hingga ke penjuru dunia ini terus mengembangkankan para generasi muda untuk bisa mengukir dengan kualitas yang bagus. Dengan itu Pemerintah Kabupaten Jepara membnuka 2 kelas jurusan Kriya Ukir di SMK Negeri 2 Jepara, mulai tahun ajaran 2014/2015.

Hal itu di ungkapkan Bupati Jepara H. Ahmad Marzuqi, SE saat menjadi inspektur upacara di Alun-alun Jepara, Rabu pagi (10/4). Upacara yang diikuti berbagai instansi, ormas, dan pelajar, digelar sebagai puncak peringatan Hari Jadi Jepara ke-465.

Menurut Marzuqi ,talenta alam pewaris budaya ukir masih terus lahir di Jepara. Namun pihaknya berharap muncul kreatifitas SDM pengukir yang dilahirkan oleh lembaga pendidikan formal. Karena itulah, mengiringi Hari Jadi Jepara tahun ini, Jepara menetapkan dibukanya 2 kelas jurusan Kriya Ukir di SMK Negeri 2 Jepara, mulai tahun ajaran 2014/2015. Pembukaan jurusan ini diharapkan menjadi perhatian bersama, termasuk dalam bentuk pertimbangan diberikannya beasiswa dan insentif modal kerja bagi lulusan jurusan ini. Hal ini dimaksudkan untuk menarik minat anak-anak lulusan SLTP di Jepara, agar antusias memilih jurusan baru tersebut.

Pembukaan jurusan ini diputuskan karena SMK Negeri 2 Jepara yang pada awalnya memberikan keterampilan ukir, sejak tahun 1998 tak lagi memiliki jurusan ukir seiring perubahan kurikulum.

Tak hanya itu ,Bupati Jepara H. Ahmad Marzuqi, SE menggagas perlunya menjadikan kerajinan ukir Jepara sebagai warisan budaya dunia.Bagi Jepara, industri mebel ukir merupakan urat nadi perekonomian masyarakat. Kualitas mebel ukir Jepara telah diakui dunia, dengan bukti diterimanya berbagai produk dari daerah ini di berbagai belahan dunia. “Sudah lebih dari 110 negara di dunia yang mengimpor mebel dan ukir dari Jepara,” tandasnya.

Meski tidak memiliki data pasti, pemasaran di dalam negeri juga sangat tinggi. Untuk memenuhi permintaan pasar di dalam dan luar negeri, Jepara membutuhkan sekitar 1000 m3 kayu setiap hari. Dari proses tersebut, mebel ukir mendorong sektor industri pengolahan sebagai kontributor tertinggi PDRB (Product Domestic Regional Bruto) Jepara dengan kontribusi sekitar 27 persen per tahun.Fakta ini menjadikan Ahmad Marzuqi meyakini mebel ukir Jepara berpotensi mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya. “Apalagi bekal ke arah itu sudah ada. Mebel Ukir Jepara telah mendapat sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Ditjen HaKI Kementerian Hukum dan HAM RI,” demikian Marzuqi meyakinkan.

Sertifikat IG Jepara merupakan pengakuan istimewa dibanding IG lain yang   telah diterbitkan Ditjen HaKI. Hingga 13 September 2013, baru terdapat 23 sertifikat IG yang diterbitkan lembaga tersebut. Dari jumlah itu, Mebel Ukir Jepara merupakan satu-satunya produk hasil kreatifitas seni tingkat tinggi yang memperoleh sertifikat IG. Produk lain yang telah menerima IG, umumnya merupakan produk pertanian yang lebih banyak bergantung faktor alam, bukan kreatifitas akal budi.

Pengakuan Mebel Ukir Jepara sebagai warisan budaya dunia, dalam pandangan  Marzuqi sangat strategisnya untuk penguatan kearifan lokal ini, dan mampu meningkatkan branding daerah, Jepara the world carving center.

Artikel Terkait Lainnya

  • numpang komentar anak jepara sendiri… ini radio aktif banget ya di website juga