Sambut Piala Dunia 2014 dengan Sepak Bola Api

Para pemain saling berebut bola api
Para pemain saling berebut bola api

Tradisi Sepak Bola Api dan Sedekah Bumi di desa Kawak kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara Rabu malam (4/6) menyedot ratusan pengunjung yang datang dari desa-desa di seputaran desa Kawak. Acara yang sekaligus menyambut Piala dunia 2014 itu berlangsung sangat meriah.

Arena yang menjadi tempat berlangsungnya sepak bola api yaitu seputaran komplek balai Desa Kawak , dipadati ribuan orang yang sudah sejak sore menjelang malam menanti serunya sepak bola api yang yang hanya terjadi satu tahun sekali.

Wakil Bupati Jepara Subroto yang turut hadir dalam acara sepak bola api mengatakan, Di Jepara ini banyak desa yang memnpunyai kearifan lokal, atas dasar kesejarahan, dari salah satu desa di Jepara yang mempunya kearifan lokal Sepak bola api adalah Desa Kawak Kecamatan Pakis Aji.

Baca juga:  Perang Obor Tegalsambi Lebih Meriah, Tahun Ini Habiskan 350 Obor

Subroto menilai kearifan lokal yang ada di desa kawak harus terus di kembangkan dengan cara menyelengarakan acara tersbut secara rutin,sehingga orang tau jadwalnya, dan pemerintah daerah akan membantu mempromosikan, di dalam buku pariwisata.

Sementara Kenapa di lakukan bola api Subroto menjelaskan itu adalah sebuah simbol kejahatan yang di percayai msyrakat setempat, dengan menendang bola api sama saja menendang dan mengusir roh halus, agar tidak menganggu masyarakat.

Pemangku adat desa Kawak kecamatan Pakis Aji Amin Ayahudi mengtakan, kegiatan sedekah bumi sudah diawali sejak Minggu (1/6) lalu, dengan menggelar prosesi ziarah makam dan manganan. Kemudian dilanjutkan pada, Rabu (4/6) malam dengan menggelar pementasan sepak bola api yang dilakukan oleh para pemuda kawak. “Sepak bola api ini sekaligus menyambut piala dunia 2014 “ujar amin.

Baca juga:  Perang Obor Tegalsambi Jepara Sedot Ribuan Pengunjung

Dia mengungkapkan, sebagai puncak acara, sedekah bumi desa dilaksanakan tradisi Jondang yang diikuti seluruh warga di masing-masing RT, pada Kamis (5/6) pagi. Mereka berkumpul menjadi satu, dengan membawa kreasi jondang masing-masing untuk diarak keliling desa mulai dari lapangan hingga punden mbah kawak.

Dijelaskan Amin, Jondang merupakan alat angkut zaman dulu, yang digunakan pula untuk tempat penyimpanan, baik yang berupa hasil bumi, makanan, nasi, sayuran, buah buahan hingga berbagai macam tanaman polowijo. Untuk sekarang ini, jondang sudah dikreasikan dengan berbagai hiasan seperti tumpeng raksasan dan kreasi unik lainnya.

Artikel Terkait Lainnya

Tinggalkan pesan

Your email address will not be published.