Pasar Ngabul Lama Ditutup Pedagang Menangis

Pasar NgabulAir mata pedagang Pasar Ngabul Jepara pecah setelah pemerintah Kabupaten Jepara menutup pasar yang selama ini menjadi tempat para pedagang mencari nafkah (5/1).

Ketegangan sempat terjadi antara aparat keamanan Satpol PP dengan pedagang pasar ngabul lama yang didominasi ibu-ibu. Mereka berjam-jam

saling berhadap-hadapan dengan petugas mulai pukul 10.00 hingga sore hari dan akhirnya para pedagang mundur. Mereka banyak yang menangis sambil menyuarakan menolak pindah dan menurut mereka dua pasar adalah solusi terbaik.

Namun air mata mereka terbuang sia-sia, harapan penggunaan dua pasar tak dipenuhi pemerintah Kabupaten  Jepara.

“Dua pasar solusi terbaik. Surat Keputusan Bupati tidak kitab suci, masih dapat dievaluasi,” sorak para pedagang.

Alasan Pemeritah menutup Pasar Ngabul lama adalah sikap tegas pemerintah yang telah dikaji dari berbagai sudut, utamanya aspek kepentingan masyarakat termasuk pedagang, aspek  hukum, sosial, dan juga ekonomi.

Dengan adanya  pasar yang representatif dan manusiawi diharapkan akan membuat konsumen puas dan menjadikan pasar tradisional sebagai tempat untuk memenuhi kebutuuhan sehari-hari.

Muaranya, pedagang yang akan diuntungkan karena banyaknya pembeli yang memanfaatkan pasar yang baru. Penjelasan tersebut diungkapkan oleh Kepala  Bagian Humas Setda Jepara, Hadi Priyanto seusai  mengikuti rapat koordinasi bersama Bupati dan  jajarannya.

Pada saat itu, Wakil Bupati Jepara menyampaikan surat dengan nomor 511.2/II tertanggal 2 Januari 2015 yang dikeluarkan dan ditanda-tangani oleh Kepala Dinas Koprasi UMKM  dan Pengelolaan Pasar Jepara, Mas’ud.

Surat itu berisi, pedagang kecil atau yang berjualan mengunakan dunak, diberikan  tempat gratis dengan kuota 20 persen dari total tempat yang ada di pasar baru. Sedangkan pedagang kios dibebaskan dari angsuran tiga bulan untuk menempati kios di pasar baru, setelah itu pedagang mencicil angsuaran selama kurun waktu empat tahun.