PLN Tampik Jika Penyebab Tower Roboh Karena Faktor Tanah Labil

IMG_20150509_092632Deputi Manager Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN Distribusi Jateng-DIY, Supriyono, menjelaskan dari hasil survei yang dilakukan oleh tim investigasi dari PLN maupun rekanan ditemukan sejumlah clam schoor penahan tower transmisi 125 (T 125) di Desa Sumosari, Kecamatan Batealit hilang. Akibatnya, beberapa kawat sling penahan tower tersebut lepas. Tower tersebut roboh karena tak mampu menahan tarikan kabel yang sudah terpasang (stringing).

”Tower T 125 merupakan tower penegang, termasuk pula tower T 129 yang untungnya tak ikut roboh. Kedua tower tersebut merupakan tower penegang yang baru dilakukan penarikan satu sisi ke arah PLTU Tanjung Jati B. Sedangkan ke arah gardu induk di Sayung belum bisa dipasang karena masalah ruang bebas (ROW),” paparnya.

Sampai saat ini, kata dia, masalah ROW tersebut masih dalam proses konsinyasi. Dari 314 warga pemilik lahan yang dilalui kabel transmisi itu, 46 di antaranya telah ditetapkan konsinyasi oleh Pengadilan Negeri (PN) Jepara pada 9 April 2014. ”Sementara sisanya masih dalam proses,” tandasnya.

Adapun tower T 126, 127 dan 128 yang ikut roboh merupakan tower penyangga dari kawat yang ditegangkan oleh tower T 125 dan 129. Ketiga tower tersebut roboh karena tertarik oleh tower T 125 yang roboh. Pihaknya memastikan jika clam schoor hilang sebelum tower T125 tersebut roboh. Dia menampik, dugaan jika penyebab tower roboh karena faktor tanah yang labil, maupun konstruksi yang tidak sesuai standar.